Kecerdasan Emosi ( Emotional Intelligence)

Standard
Kecerdasan Emosi ( Emotional Intelligence)

Menurut teori-teori, Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence) adalah kemampuan kognitif pada suatu individu untuk memberikan alasan yang baik, belajar dari pengalaman, dan mengahadapi tuntutan hidup seharihari (Lahey, 2007),

sedangkan Chaplin (2009) mendefinisikan kecerdasan (intelligence) adalah:
1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap

situasi baru secara cepat dan efektif; 2) kemampuan menggunakan konsep abstrak

secara efektif; 3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan

cepat sekali. Gardner dalam Sariolghalam, Noruzi, dan Rahimi (2010) menjelaskan

bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk menciptakan produk yang efektif atau

penawaran jasa yang bernilai dalam budaya, sekelompok kemampuan yang

memungkinkan manusia untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupannya serta

potensi untuk menemukan atau menciptakan solusi untuk masalah, yang melibatkan

pengetahuan-pengetahuan yang baru. Dari tiga definisi di atas dapat dikemukakan

bahwa kecerdasan adalah kemampuan kognitif individu dalam menghadapi,

menyesuaikan diri terhadap situasi baru, dan dalam hal-hal kaitannya dengan

inovasi.

Hal-hal yang berkaitan dengan definisi emosi dijelaskan dalam Chaplin (2009)

dirumuskan sebagai satu keadaan yang terangsang organisme. Mencakup

perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan

perilaku. Menurut Goleman (1999) emosi merupakan suatu perasaan yang berkaitan

dengan amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan

malu. Dari penjelasan di atas bahwa emosi merupakan suatu tindakan,

ketidakstabilan pikiran, perasaan, nafsu, yang tidak terkendali.

Salovey dan Mayer pada tahun 1997 (dalam Morgan, 2003) mendefinisikan

bahwa kecerdasan emosi melibatkan kemampuan untuk mengetahui, menilai dan

mengeksperikan emosi secara akurat; kemampuan untuk menggunakan emosi

untuk berpikir; kemampuan untuk memahami dan memiliki pengetahuan tentang

emosi; serta kemampuan untuk mengelola emosi untuk mengembangkan diri.

Sedangkan Goleman (1999) mendefinisikan bahwa kecerdasan emosi merujuk

kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain,

kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik

pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Dari kedua definisi

tersebut peneliti menarik kesimpulan bahwa kecerdasan emosi merupakan

kemampuan untuk menggunakan dan mengelola emosi untuk diri sendiri dan orang

lain dan kaitannya dalam mengembangkan potensi diri dan sesuai dengan dimensidimensi

yang ada pada Goleman.

Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosi dapat didefinisikan dalam

empat dimensi, yaitu:

1. Self-awarenes,  yaitu kemampuan manusia untuk secara akurat

memahami diri sendiri dan tetap sadar terhadap emosi diri ketika emosi

muncul, termasuk tetap mempertahankan cara manusia dapat

merespons situasi tertentu dan orang-orang tertentu di dalamnya

terdapat kesadaran emosi (emotional awareness), penilaian diri yang

akurat (accurate self-assessment), dan kepercayaan diri (self

confidence);

2. Social Awareness, adalah kemampuan manusia untuk secara tepat

menangkap emosi orang lain dan mengerti apa yang benar-benar terjadi,

dapat diartikan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan

walaupun tidak merasakan yang sama, di dalamnya terdapat: empati,

orientasi pelayanan (service orientation), kesadaran berorganisasi

(organizational awareness) ;

3. Self Management, adalah kemampuan untuk menggunakan kesadaran

emosi manusia untuk tetap fleksibel dan secara positif mengarahkan

perilaku diri manusia itu sendiri, yang berarti mengelola reaksi emosi

manusia itu sendiri kepada semua orang dan situasi, di dalamnya

terdapat: kontrol emosi diri (emotional self-control), dapat dipercaya

(trustworthiness), teliti (conscientiousness), kemampuan beradaptasi

(adaptability), dorongan berprestasi (achievement drive), inisiatif ;

4. Relationship Management, kemampuan untuk menggunakan kesadaran

emosi manusia dan emosi orang lain untuk mengelola interaksi yang

berhasil, termasuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif untuk

mengatasi konflik, yang didalamnya terdapat memajukan orang lain

(developing others), dapat mempengaruhi (influence), komunikasi

(communication), manajemen konflik (conflict management), dapat

memimpin (visionary leadership), catalyzing change, membangun ikatan

(building bonds), kerjasama dan berkolaborasi (teamwork and

collaboration).

Sumber :

Martin. 2011. Inspirasi Kecerdasan Emosi. Jakarta : Raih Asa Sukses
Goleman. 1996. Kecerdasan Emosi. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum
(Lahey, 2007)
Chaplin (2009)
Noruzi, dan Rahimi (2010)
Salovey dan Mayer pada tahun 1997 (dalam Morgan, 2003)
http://www.bukukita.com/Psikologi-dan-Pengembangan-Diri/Pengembangan-Diri/93106-101,5-Inspirasi-Kecerdasan-Emosional.html
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/5.kecerdasan.emosional/001/007/846/1/1
http://teorionline.net/kecerdasan-emosional/
http://female.kompas.com/read/2013/07/29/1527456/Pentingnya.Mengaktifkan.Kecerdasan.Emosi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s